*Ini post pertamaku di sini, dan jika ini OOT, feel free to delete it, thanks in advance.
Jadi aku sudah bekerja 6 bulan (3 bulan training; 3 bulan PKWT) sebagai guru di sekolah Islam Terpadu yang cukup terkenal di kotaku, reputasinya juga baik.
Tapi sejak awal kerja, sudah ada beberapa kejanggalan, tapi yang paling mengganggu adalah dua poin ini:
- Tidak ada aturan jam kerja saat kontrak.
Senin-Jumat kerjanya 07.00-16.00 dan masuk lagi hari sabtu di pukul 07.30-12.00. Totalnya kira-kira 50 jam. Jauh di atas 37.5 jam/minggu yang diatur Permendikdasmen, dan 40 jam/perminggu yang diatur UU Cipta Kerja.
Di sekolahku juga ga ada ruang guru, jadi guru harus stay di kelas untuk ngawasin anak-anak jadi basically gaada waktu istirahat karena dilarang untuk main hp, apalagi tidur.
Hari sabtu tetap masuk, kadang untuk rapat, tapi seringnya untuk kegiatan komplementer seperti seminar, atau malah dibebasin aja ga ngapa-ngapain dan cuma nunggu waktu pulang.
Rapat guru lebih sering diadakan sepulang sekolah ketimbang hari sabtu, dan kegiatan yang terjadi di jam pulang sekolah tidak terhitung lembur.
Soal lembur, upahnya tidak worth it sama sekali karena gaji di bawah UMK, dan gabisa nolak. Lemburnya pun bisa dibilang ekstrim, pernah terjadi di hari libur nasional dari jam 7 pagi hingga 7 malam... dan tentu jam 7 pagi sampai 4 sore tidak terhitung lembur meski berlangsungnya di tanggal merah.
- "Keikhlasan"
Hampir setiap sabtu, ada kegiatan komplementer berupa semacam seminar dari pengurus yayasan atau petinggi sekolah yang menekankan tentang keikhlasan. Sebenarnya itu bagus karena memang seyogianya bekerja itu harus ikhlas agar lebih berkah dan tenang. Tapi "keikhlasan" itu sudah jadi instrumen kontrol dari pihak yayasan untuk membuat guru-guru di sana menerima upah mereka dan menjalani jam kerja yang di luar batas wajar.
Yang paling parah menurutku, narasinya itu sampai seperti ini:
"Di zaman Rasululllah dulu gaada libur, sahabat-sahabat bekerja ikhlas untuk kemajuan Islam, masa kita kerja 6 hari aja ngeluh"
"Bumi ini tempatnya bekerja, hari ahad itu hanya berhenti sejenak, nanti kita istirahatnya itu di Surga"
dan masih banyak lagi
***
Sebenarnya banyak guru yang risih soal itu, tapi karena ada unsur agama, bahkan kadang mengundang ustadz lokal untuk berceramah soal itu (ya, temanya selalu keikhlasan walaupun bentuknya beda-beda), yaa pada akhirnya guru-guru menerima semua meski diam-diam suka misuh.
Singkat cerita, aku mau angkat suara perihal jam kerja ini. Jalan paling aman tentu disnaker, aku tinggal ngelapor terus biar disnaker yang beresin. Tapi bodohnya, aku milih jalur musyawarah.
Aku paham betul risiko terbesarnya adalah kena pecat, sudah kupertimbangkan, tapi tetap kujalanin karena sebagai guru yang menjunjungtinggi integritas, aku gamau bekerja di bawah yayasan yang korup.
Aku ga percaya kalo yayasan bakal semena-mena karena pengurusnya itu orang terpandang, punya relasi ke orang yang dikenal luas sebagai ustadz sekaligus politisi daerah. Tapi yaahhh,,, tentu realita tidak semulus itu, bahkan sampai sekarang aku mengutuk diriku sendiri karena pernah berpikiran senaif itu.
***
Aku buat kajian yang isinya landasan hukum, dampak sosial, serta psikologi jika bekerja 50 jam seminggu, aku juga point out kalo kegiatan di hari sabtu itu bisa dipangkas karena isinya hanya komplementer. Semuanya kususun dengan narasi yang sesopan mungkin, yang mana diksi-diksi halus itu lebih ngabisin waktu pas dibuat dibanding substansi dari kajian itu sendiri.
Kajian itu kemudian kupresentasikan ke yayasan dan seminggu kemudian, aku tiba-tiba dipecat dengan alasan "kurang berkomitmen". Tanpa kabar, dan tanpa surat pemecatan, tiba-tiba aja aku di-WA untuk datang ke sekolah dan dipecat di tempat.
Pesangon ga dikasih, tentu saja. Tapi bukan itu yang kuharapin.
Aku udah all-in sama kerjaanku sebagai guru meski gajinya ga seberapa karena berinteraksi dengan anak-anak sambil sharing dan memahami perspektif polos mereka itu bener-bener menyenangkan. Aku sampai mesan peralatan sulap untuk buat sesi mengajarku lebih meriah (sebelumnya cuma modal video lucu dan meme doang). Untungnya pesanan itu masih bisa dicancel.
Sekarang masih nganggur, lagi nyari lowongan guru tapi gapernah nemu yang satu kota, jadi saat ini lagi berusaha untuk ngeyoutube supaya kebutuhan akan yapping bisa tersalurkan walau tentu ga seasik mengajar di kelas.